Mengembangkan Ide Bagi Cerita Pendek

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita. Lanjut membaca

Cerpen yang Kental dan yang Longgar

Cerpen hanya mengungkap satu persoalan pokok, sementara novel menggabungkan beberapa persoalan secara sambung-menyambung dalam rangkuman satu tema sentral. Oleh karena itu, novel punya banyak peluang untuk berlarut-larut dalam memaparkan suatu latar, peristiwa, atau penokohan secara rinci. Sedangkan cerpen hanya selintas-selintas saja mengungkap esensi suatu latar, peristiwa, atau penokohan dalam satu “helaan nafas” untuk menunjang persoalan pokok. Untuk itu, diperlukan sikap hemat dalam mengumbar narasi sewaktu menulis cerpen karena keterbatasan halaman atau karena kependekannya. Meski begitu, bukan berarti sebuah cerpen merupakan ringkasan sebuah novel. Cerpen adalah cerita yang pendek, kental dan mengesankan. Lanjut membaca

Santri Koplok

Santri Koplok

Santri Koplok

Byur!!!
Seember air disiramkan.
Bangun                          !                          

bentak kang Puji.                            Kamu mau jadi apa sih..?, mau jadi kebo yang bisanya tidur terus… Apa mau jadi Ayam, hah…! mending ayam kalo males, suka tidur-tiduran bisa disemebelih, bisa buat makan. Trus kalo kamu…! yang sukanya tidur, mau diapakan..?, mau disembelih juga.                          
Kontan semua orang yang ada disekelilingnya tertawa. Hanya kang Puji yang tidak.
kamu mau jadi apa…?                           tanya Kang Puji lagi…
mau jadi apa hah…!, ditanya ko                               diam aja. Punya mulut nda..?                           lanjut kang Puji dengan nada semakin keras memarahiku. Perasaankupun menciut, wajahku usang. Sejenak ku menatapnya, tampak berdiri kang Puji didepanku membawa ember si saksi bisu perbuatan yang paling memalukan dalam sejarah hidupku.
Sambil menatap tajam Kang Puji meletakan ember disampingnya, kemudian melangkah mendekatiku dengan langkah perkasa. Ia semakin dekat dengan posisiku yang basah kuyup diatas tikar. Setelah tepat didepanku, kang Puji membungkukan badan dan duduk sejajar denganku. Dia masih menatapku, namu tatapannya tidak setajam tadi ketika baru mengguyurkan air. Sekarang tatapannya telah pudar menjadi tatapan yang teduh. Tatapan kedamaian. Melihat perubahan demikian, denyut jantungku mulai menurun, keteganganku mulai redup. Aku perlahan menggerakan tubuhku yang tak beraturan menjadi keadaan sila. Kutundukan kepalaku sebagai tanda hormatku pada santri senior, apalagi santri senior itu santri terdekat Abah. Tak ada sepatah kata keluar dari mulutku, tak juga ada gerak dari tubuhku selain duduk berpaku diam seribu.

*cuplikan kumpulan cerpen batur agung