Teknik Penulisan Berita untuk Pemula #2 (Habis)

Setelah membaca tulisan sebelumnya Teknik Penulisan Berita untuk Pemula #1, berarti anda sudah sedikitnya mengetahui  tentang syarat-syarat layak berita yaitu significance, magnitude, timeliness, proximity, prominence, human interest. Apalagi ditambah dengan contoh, pahamlah anda. Tetapi untuk menulis berita ada hal lain yang menjadikan berita akan sempurna, yaitu konsep 5W 1H.

Didalam dunia jurnalistik sudah tidak asing lagi konsep 5W 1H. 5W 1H adalah unsur-unsur yang terdiri dari (What, Who, Why, When, Where) + How. (Apa, Siapa, Mengapa, Kapan, Dimana,) dan Bagaimana. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan perangkat pembantu untuk mencari jawaban yang akan menjadi bahan berita. Dan konsep ini mutlak adanya, sebab kalau kita lupa salah satu dari perangkat pertanyaan tersebut, maka pembaca akan bertanya-tanya. Misalkan kurang who-nya, pembaca akan bertanya siapa yang diberitakan, kurang where-nya, pembaca bertanya dimana gerangan lokasi kejadian itu dan seterusnya. Lanjut membaca

Teknik Penulisan Berita untuk Pemula #1

Saya pertama kali terjun didunia tulis-menulis ketika masih dibangku sekolah menengah pertama (SMP). Dikarenakan seluruh siswa wajib memilih minimal satu eskul, mau tidak mau saya harus mengikutinya. Dan saya menetapkan memilih dua eskul, pertama PMR, dan yang kedua mading atau majalah dinding. Dari mading inilah, pertama kali saya dikenalkan bagaimana pentingnya sebuah informasi. Dan hal yang paling praktis dari sebuah informasi adalah berita. Menulis berita ini, bisa berupa liputan atas peristiwa penting (tentu, kalau bisa disertai photo peristiwa), bisa berupa wawancara umum (untuk topik yang tengah mengemuka), bisa pula catatan-catatan penting atas sebuah acara yang perlu diketahui publik.

Menurut Prof. Drs M Atar Sami, berita adalah cerita atau laporan mengenai kejadian atau peristiwa yang faktual, baru dan luar biasa sifatnya. Unsur faktual merupakan hal utama untuk membedakan suatu tulisan disebut berita atau bukan berita. Karena berita harus selalu berdasarkan sebuah fakta, oleh sebab itu seorang wartawan tidak boleh mengarang berita. Sedang unsur baru dan luar biasa berkaitan dengan aturan mengenai suatu fakta yang layak ditulis menjadi berita. Lanjut membaca

Santri Koplok

Santri Koplok

Santri Koplok

Byur!!!
Seember air disiramkan.
Bangun                          !                          

bentak kang Puji.                            Kamu mau jadi apa sih..?, mau jadi kebo yang bisanya tidur terus… Apa mau jadi Ayam, hah…! mending ayam kalo males, suka tidur-tiduran bisa disemebelih, bisa buat makan. Trus kalo kamu…! yang sukanya tidur, mau diapakan..?, mau disembelih juga.                          
Kontan semua orang yang ada disekelilingnya tertawa. Hanya kang Puji yang tidak.
kamu mau jadi apa…?                           tanya Kang Puji lagi…
mau jadi apa hah…!, ditanya ko                               diam aja. Punya mulut nda..?                           lanjut kang Puji dengan nada semakin keras memarahiku. Perasaankupun menciut, wajahku usang. Sejenak ku menatapnya, tampak berdiri kang Puji didepanku membawa ember si saksi bisu perbuatan yang paling memalukan dalam sejarah hidupku.
Sambil menatap tajam Kang Puji meletakan ember disampingnya, kemudian melangkah mendekatiku dengan langkah perkasa. Ia semakin dekat dengan posisiku yang basah kuyup diatas tikar. Setelah tepat didepanku, kang Puji membungkukan badan dan duduk sejajar denganku. Dia masih menatapku, namu tatapannya tidak setajam tadi ketika baru mengguyurkan air. Sekarang tatapannya telah pudar menjadi tatapan yang teduh. Tatapan kedamaian. Melihat perubahan demikian, denyut jantungku mulai menurun, keteganganku mulai redup. Aku perlahan menggerakan tubuhku yang tak beraturan menjadi keadaan sila. Kutundukan kepalaku sebagai tanda hormatku pada santri senior, apalagi santri senior itu santri terdekat Abah. Tak ada sepatah kata keluar dari mulutku, tak juga ada gerak dari tubuhku selain duduk berpaku diam seribu.

*cuplikan kumpulan cerpen batur agung