Santri Ngaji, Pengurus Ngimpi

Beberapa hari lalu saya mengikuti milist. Ada santri bikin thread yang intinya dia mengeluhkan tentang banyaknya pengurus yang berleha-leha (tiduran) disuatu ruangan disaat para santri mengaji. Sementara, selama ini pengurus sering membentak-bentak santri yang tidak mengikut pengajian dan dia menganggapnya membolos. Apakah tindakan seperti ini dibenarkan?

Dari kasus tersebut, saya berusaha menjawab berdasarkan penelitian seseorang yang pernah mengkaji Pengurus vs Santri beberapa waktu yang lalu.

Membolos selalu berkonotasi negatif dilihat dari sudut pandang manapun. Tetapi pantaskah tindakan pengurus tersebut disebut dengan membolos?

Jika kita gunakan pertanyaan yang sama untuk santri dan pengurus, akan menjadi seperti ini:

  • Apakah tidurnya santri masih dianggap membolos karena tidak mengikuti kegiatan pondok?
  • Apakah tidurnya pengurus masih dianggap mbolos karena tidak mengikuti kegiatan pondok?

Pertanyaan selanjutnya, apakah kewajiban santri dan pengurus itu sama?

Menilik kembali perbandingan diatas antara santri dan pengurus. Kewajiban santri itu mengaji, kewajiban pengurus itu mengurusi santri (namanya juga pengurus).

Kewajiban santri adalah mengaji. Dulu ketika saya menjadi santri itu yang ditanamkan oleh pengurus dan kyai kepada semua santri. Menjadi pelanggaran jika kita tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Bagaimanapun alasannya, kecuali alasan tertentu.

Kewajiban pengurus adalah mengurusi santri, sesuai perjanjian (sumpah) antara pengurus dan kyai. Jadi, bagi pengurus–mengaji bukan lagi fardlu ain yang harus diikuti tetapi menjadi fardlu kifayah. Sah-sah saja ketika pengurus selesai melaksanakan tugasnya kemudian tidur tidak mengikuti pengajian. Toh, bagaimanapun itu tidak disebut melanggar tugas.

Hal itu menjadi benar jika kita sandarkan pada sumpah. Tetapi menjadi salah jika kita sandarkan pada sosial-moral. Secara tidak langsung pengurus akan terikat oleh lingkungan pesantren yang selalu identik dengan budaya mengaji, dan anggapan yang ada adalah “TIDAK MENGAJI, itu SALAH”. Padahal ini hanya berlaku untuk santri, bukan untuk pengurus.

Saya ringkas agar mudah dipahami:
Tugas santri mengaji. Tidur–tidak mengikuti pengajian; SALAH

Tugas pengurus memanage santri. Tidur–tidak mengikuti pengajian; NETRAL

Itu baru perbedaan santri dan pengurus dari satu sisi, belum dari sisi yang lain seperti sekte dalam pengurus (maksudnyapengurus bagian, seperti: pengurus pendidikan, pengurus kebersihan, pengurus keamanan, dll). Jika itu kita bandingkan, akan lebih tajam perbedaannya.

#Kewajiban Utama Santri dan Pengurus; BERBEDA.

Blogger Malhikdua di Pesta Blogger 2010+

Setelah ikut serta dalam kopdar SOLO (Sharing Online lan Offline), Blogger malhikdua kembali turut berpartisipasi dalam temu bareng pada Pesta Blogger 2010, merayakan keberagaman di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.

Sekilas mengenai Pesta Blogger 2010
Pesta Blogger yang diselenggarakan setahun sekali merupakan event nasional yang diselenggarakan blogger Indonesia sebagai ajang tatap muka bagi para blogger seluruh Indonesia, selain itu ajang ini juga digunakan untuk bertukar informasi dan berbagi pengalaman antar blogger.

Pesta Blogger 2010+, merayakan keberagaman, merupakan pesta blogger keempat. Di event keempat ini pesta blogger tidak hanya membidik para blogger-blogger saja melainkan juga para onliner seluruh Indonesia untuk ikut berpartisipasi didalamnya. Oleh karenanya, pesta blogger 2010 tidak hanya \”Pesta Blogger 2010 saja, melainkan berubah menjadi \”Pesta Blogger 2010+ Tanda plus (+) diartikan sebagai onliner selain blogger. Lanjut membaca

Diberi Yang Tak Diminta

Bersabarlah menghadapi hidup, jangan pernah berburuk sangka pada Alloh sebab suatu permasalahan dalam hidupmu. Karena dibalik itu semua ada hikmah dan hidayah yang bisa kau ambil. Dan cobaan yang sulit adalah bagian dari ilmu Alloh yang diajarkan-Nya secara langsung kepada kita. Oleh karena itu, tetap bersabar dan bersyukur.

Kalimat panjang yang tertuliskan pada buku catatan harian saya.

Syeh Muhyiddin Ibn Aroby Jika ditahan permitaanmu maka sejatinya engkau telah diberi. Dan jika ditolak permintaanmu maka sejatinya engkau ditahan dari pemberian yang sangat besar.

Pernyataan Ibn Aroby jika dihubungkan dengan hidup saya memang sangat sejalan. Bahkan saya menjadi sangat percaya karena mengalaminya sendiri. Ketika saya mendapatkan kelulusan saya begitu senangnya. Bahkan, kelulusan adalah bagian dari sejarah hidup yang tak akan pernah dilupakan. Sebagaimana seorang siswa pasti sudah punya gambaran jenjang pendidikannya nanti setelahnya. Lanjut membaca

OSPEK Paling Cepat Sejagad

Awal dari menapakan kaki untuk melangkah di perguruan tinggi adalah propesa atau bahasa kerennya OSPEK. OSPEK atau sering disebut orientasi memang serupa dengan MOS (Masa Orientasi Siswa) seperti yang dilakukan anak-anak SMP atau SMA, bedanya hanya OSPEK dilakukan untuk menyambut dan mengenalkan lingkungan, sistem belajar, dan apapun yang berhubungan dengan perguruan tinggi dan dilakukan diperguruan tinggi. Malahan ada beberapa perguruan tinggi yang menggunakan OSPEK sebagai media pembangun strata atau pemisah yang akan menghasilkan stratifikasi dalam pendidikan, seperti ke-senioritas-an. Dan tidak dipungkiri, ke-senioritas-an banyak melahirkan OSPEK-OSPEK yang berbau perploncoan dan penganiyaan seperti beberapa waktu lalu dimuat diberbagai media tentang kasus IPDN.

Di UIN Syarif Hidaytullah, OSPEK sudah ada sejak lama. OSPEK itu sendiri menurut ketua BEM “kegiatan pengenalan pada semua lini kampus, baik pendidikan, lingkungan, budaya, organisasi, dll. Tapi satu hal, OSPEK di UIN Syarif Hidayatullah tidak mengenal perploncoan.” Lanjut membaca

Cerpen yang Kental dan yang Longgar

Cerpen hanya mengungkap satu persoalan pokok, sementara novel menggabungkan beberapa persoalan secara sambung-menyambung dalam rangkuman satu tema sentral. Oleh karena itu, novel punya banyak peluang untuk berlarut-larut dalam memaparkan suatu latar, peristiwa, atau penokohan secara rinci. Sedangkan cerpen hanya selintas-selintas saja mengungkap esensi suatu latar, peristiwa, atau penokohan dalam satu “helaan nafas” untuk menunjang persoalan pokok. Untuk itu, diperlukan sikap hemat dalam mengumbar narasi sewaktu menulis cerpen karena keterbatasan halaman atau karena kependekannya. Meski begitu, bukan berarti sebuah cerpen merupakan ringkasan sebuah novel. Cerpen adalah cerita yang pendek, kental dan mengesankan. Lanjut membaca