Mengembangkan Ide Bagi Cerita Pendek

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita. Lanjut membaca

Membaca Nurani

“Assalamu’alaikum …”

Kang Zulfi mengakhiri sholatnya dengan menengokan pandangan kearah kanan hingga ma’mum dibagian belakang kanannya terlihat, seolah ia berucap salam pada malaikat Rokib

“Assalamu’alikum …”

Salam kedua kang Zulfi menengokkan pandanganya kearah kiri dan seolah ia sedang berucap salam dengan malikat Atid. Hal demikian pun di ikuti oleh para ma’mumnya, begitu pula aku yang langsung menggeser tempat duduknya, merapat pada tembok untuk melantunkan dzikir kepada Alloh untuk memantapkan dan menenangkan hati dengan iman. Setelahnya, doa menghiasi bibirku yang meresap kehati meminta tolong pada Alloh untuk memudahkan mengatasi masalahku. Aku yakin akan mengabulkan permintaanku walau aku tak tahu kapan Alloh memberikannya.

Aku percaya tentang ayat Al-Quran. Alloh tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya. Termasuk Aku.

Setelah lantunan lafadz-lafadz selesai, kupenjamkan mata sekejap. Kutarik nafas dalam, dan memantapkan dalam hatiku doa-doa yang kubaca dan angan-angan yang kuceritakan melalui hatiku kepada Alloh, Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Pemberi. Lanjut membaca

Santri Koplok

Santri Koplok

Santri Koplok

Byur!!!
Seember air disiramkan.
Bangun                          !                          

bentak kang Puji.                            Kamu mau jadi apa sih..?, mau jadi kebo yang bisanya tidur terus… Apa mau jadi Ayam, hah…! mending ayam kalo males, suka tidur-tiduran bisa disemebelih, bisa buat makan. Trus kalo kamu…! yang sukanya tidur, mau diapakan..?, mau disembelih juga.                          
Kontan semua orang yang ada disekelilingnya tertawa. Hanya kang Puji yang tidak.
kamu mau jadi apa…?                           tanya Kang Puji lagi…
mau jadi apa hah…!, ditanya ko                               diam aja. Punya mulut nda..?                           lanjut kang Puji dengan nada semakin keras memarahiku. Perasaankupun menciut, wajahku usang. Sejenak ku menatapnya, tampak berdiri kang Puji didepanku membawa ember si saksi bisu perbuatan yang paling memalukan dalam sejarah hidupku.
Sambil menatap tajam Kang Puji meletakan ember disampingnya, kemudian melangkah mendekatiku dengan langkah perkasa. Ia semakin dekat dengan posisiku yang basah kuyup diatas tikar. Setelah tepat didepanku, kang Puji membungkukan badan dan duduk sejajar denganku. Dia masih menatapku, namu tatapannya tidak setajam tadi ketika baru mengguyurkan air. Sekarang tatapannya telah pudar menjadi tatapan yang teduh. Tatapan kedamaian. Melihat perubahan demikian, denyut jantungku mulai menurun, keteganganku mulai redup. Aku perlahan menggerakan tubuhku yang tak beraturan menjadi keadaan sila. Kutundukan kepalaku sebagai tanda hormatku pada santri senior, apalagi santri senior itu santri terdekat Abah. Tak ada sepatah kata keluar dari mulutku, tak juga ada gerak dari tubuhku selain duduk berpaku diam seribu.

*cuplikan kumpulan cerpen batur agung

 

Kerudung “Cantik”

“Oh ya anak-anak kelas X sos 3, bapak mau menitipkan anak yang suka terlambat ini didepan kelas. Ini anak kelas dua. Kakak kelas yang tak perlu dicontoh. OK, terima kasih.” Pengumuman pak Ghozin yang sangat tidak mengenakan.

Sejurus kemudian beliau pergi meninggalkan Aku sendiri di ruang kelas yang penuh dengan wanita. Aku berdiri di sebelah kiri papan tulis dekat dengan pintu. Terdiam, tak berani bergerak, mematung bagai arca perunggu didepan puluhan titisan Roro Jongrang, wanita tokoh dongeng Candi Prambanan itu. Tak ada kata, tak ada gerak, tak ada semua. Aku menghadapkan wajahku pada lantai keramik dibawahku. Tertunduk. Otakku kacau. Seperti biasa mulailah bayangan menyelinap masuk, seakan-akan mereka menertawakankku. Hampir semuanya tertawa terbahak-bahak melihatku. Tak hanya itu mereka mengacungkan jari telunjuknya kemukaku. Sampai-sampai ibu guru yang sedang mengajar matematika didepan juga menertawakanku. Menertawakankku. Menertawakanku! Aku malu…

Tak.. Lanjut membaca