Tentang anistok

Gue orangnya Suka Baca, ngGame, Nonton, ngLawak....!!!nQ Mo pA Yang QingiN, Ga Da yng Ga Mungkin.....!!!

Santri Ngaji, Pengurus Ngimpi

Beberapa hari lalu saya mengikuti milist. Ada santri bikin thread yang intinya dia mengeluhkan tentang banyaknya pengurus yang berleha-leha (tiduran) disuatu ruangan disaat para santri mengaji. Sementara, selama ini pengurus sering membentak-bentak santri yang tidak mengikut pengajian dan dia menganggapnya membolos. Apakah tindakan seperti ini dibenarkan?

Dari kasus tersebut, saya berusaha menjawab berdasarkan penelitian seseorang yang pernah mengkaji Pengurus vs Santri beberapa waktu yang lalu.

Membolos selalu berkonotasi negatif dilihat dari sudut pandang manapun. Tetapi pantaskah tindakan pengurus tersebut disebut dengan membolos?

Jika kita gunakan pertanyaan yang sama untuk santri dan pengurus, akan menjadi seperti ini:

  • Apakah tidurnya santri masih dianggap membolos karena tidak mengikuti kegiatan pondok?
  • Apakah tidurnya pengurus masih dianggap mbolos karena tidak mengikuti kegiatan pondok?

Pertanyaan selanjutnya, apakah kewajiban santri dan pengurus itu sama?

Menilik kembali perbandingan diatas antara santri dan pengurus. Kewajiban santri itu mengaji, kewajiban pengurus itu mengurusi santri (namanya juga pengurus).

Kewajiban santri adalah mengaji. Dulu ketika saya menjadi santri itu yang ditanamkan oleh pengurus dan kyai kepada semua santri. Menjadi pelanggaran jika kita tidak melaksanakan kewajiban tersebut. Bagaimanapun alasannya, kecuali alasan tertentu.

Kewajiban pengurus adalah mengurusi santri, sesuai perjanjian (sumpah) antara pengurus dan kyai. Jadi, bagi pengurus–mengaji bukan lagi fardlu ain yang harus diikuti tetapi menjadi fardlu kifayah. Sah-sah saja ketika pengurus selesai melaksanakan tugasnya kemudian tidur tidak mengikuti pengajian. Toh, bagaimanapun itu tidak disebut melanggar tugas.

Hal itu menjadi benar jika kita sandarkan pada sumpah. Tetapi menjadi salah jika kita sandarkan pada sosial-moral. Secara tidak langsung pengurus akan terikat oleh lingkungan pesantren yang selalu identik dengan budaya mengaji, dan anggapan yang ada adalah “TIDAK MENGAJI, itu SALAH”. Padahal ini hanya berlaku untuk santri, bukan untuk pengurus.

Saya ringkas agar mudah dipahami:
Tugas santri mengaji. Tidur–tidak mengikuti pengajian; SALAH

Tugas pengurus memanage santri. Tidur–tidak mengikuti pengajian; NETRAL

Itu baru perbedaan santri dan pengurus dari satu sisi, belum dari sisi yang lain seperti sekte dalam pengurus (maksudnyapengurus bagian, seperti: pengurus pendidikan, pengurus kebersihan, pengurus keamanan, dll). Jika itu kita bandingkan, akan lebih tajam perbedaannya.

#Kewajiban Utama Santri dan Pengurus; BERBEDA.

Blogger Malhikdua di Pesta Blogger 2010+

Setelah ikut serta dalam kopdar SOLO (Sharing Online lan Offline), Blogger malhikdua kembali turut berpartisipasi dalam temu bareng pada Pesta Blogger 2010, merayakan keberagaman di Epicentrum Walk, Kuningan, Jakarta.

Sekilas mengenai Pesta Blogger 2010
Pesta Blogger yang diselenggarakan setahun sekali merupakan event nasional yang diselenggarakan blogger Indonesia sebagai ajang tatap muka bagi para blogger seluruh Indonesia, selain itu ajang ini juga digunakan untuk bertukar informasi dan berbagi pengalaman antar blogger.

Pesta Blogger 2010+, merayakan keberagaman, merupakan pesta blogger keempat. Di event keempat ini pesta blogger tidak hanya membidik para blogger-blogger saja melainkan juga para onliner seluruh Indonesia untuk ikut berpartisipasi didalamnya. Oleh karenanya, pesta blogger 2010 tidak hanya \”Pesta Blogger 2010 saja, melainkan berubah menjadi \”Pesta Blogger 2010+ Tanda plus (+) diartikan sebagai onliner selain blogger. Lanjut membaca

Mengembangkan Ide Bagi Cerita Pendek

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita. Lanjut membaca

Diberi Yang Tak Diminta

Bersabarlah menghadapi hidup, jangan pernah berburuk sangka pada Alloh sebab suatu permasalahan dalam hidupmu. Karena dibalik itu semua ada hikmah dan hidayah yang bisa kau ambil. Dan cobaan yang sulit adalah bagian dari ilmu Alloh yang diajarkan-Nya secara langsung kepada kita. Oleh karena itu, tetap bersabar dan bersyukur.

Kalimat panjang yang tertuliskan pada buku catatan harian saya.

Syeh Muhyiddin Ibn Aroby Jika ditahan permitaanmu maka sejatinya engkau telah diberi. Dan jika ditolak permintaanmu maka sejatinya engkau ditahan dari pemberian yang sangat besar.

Pernyataan Ibn Aroby jika dihubungkan dengan hidup saya memang sangat sejalan. Bahkan saya menjadi sangat percaya karena mengalaminya sendiri. Ketika saya mendapatkan kelulusan saya begitu senangnya. Bahkan, kelulusan adalah bagian dari sejarah hidup yang tak akan pernah dilupakan. Sebagaimana seorang siswa pasti sudah punya gambaran jenjang pendidikannya nanti setelahnya. Lanjut membaca

Membaca Nurani

“Assalamu’alaikum …”

Kang Zulfi mengakhiri sholatnya dengan menengokan pandangan kearah kanan hingga ma’mum dibagian belakang kanannya terlihat, seolah ia berucap salam pada malaikat Rokib

“Assalamu’alikum …”

Salam kedua kang Zulfi menengokkan pandanganya kearah kiri dan seolah ia sedang berucap salam dengan malikat Atid. Hal demikian pun di ikuti oleh para ma’mumnya, begitu pula aku yang langsung menggeser tempat duduknya, merapat pada tembok untuk melantunkan dzikir kepada Alloh untuk memantapkan dan menenangkan hati dengan iman. Setelahnya, doa menghiasi bibirku yang meresap kehati meminta tolong pada Alloh untuk memudahkan mengatasi masalahku. Aku yakin akan mengabulkan permintaanku walau aku tak tahu kapan Alloh memberikannya.

Aku percaya tentang ayat Al-Quran. Alloh tak akan memberikan cobaan diluar batas kemampuan hambanya. Termasuk Aku.

Setelah lantunan lafadz-lafadz selesai, kupenjamkan mata sekejap. Kutarik nafas dalam, dan memantapkan dalam hatiku doa-doa yang kubaca dan angan-angan yang kuceritakan melalui hatiku kepada Alloh, Tuhan Yang Maha Mendengar lagi Maha Pemberi. Lanjut membaca