Mengembangkan Ide Bagi Cerita Pendek

Kegiatan menulis, atau mencipta karya sastra, dimulai dari adanya ide. Begitu pula dalam menulis cerita pendek (cerpen). Ide adalah gagasan dasar yang menjadi landasan tematik bagi penulisan cerpen. Tema menjadi semacam benang merah yang merangkai unsur-unsur cerita, sejak alur, plot, sampai penokohan dan karakterisasi tokoh-tokohnya, menjadi sebuah cerpen yang seutuhnya.

Alur adalah pergerakan cerita dari waktu ke waktu. Ada alur progresif (runtut), ada kilas balik (flash back), dan ada percampuran antar keduanya. Alur dibangun oleh narasi, deskripsi, dialog, dan aksi/laku (action). Narasi adalah pelukisan yang dinamis, penggambaran gerak (action) tokoh-tokohnya, serta pergerakan benda-benda yang menjadi penyebab atau akibat aksi para tokoh cerita. Deskripsi adalah pelukisan suasana yang statis, cenderung tetap, seperti suasana kamar yang berantakan, atau bangunan yang luluh lantak oleh bom. Dialog adalah kata-kata yang diucapkan oleh tokoh-tokoh cerita. Ada dialog lahir (terucapkan), ada dialog batin (tidak terucapkan). Sedangkan laku/aksi adalah aktivitas fisik, gerakan anggota badan, dan perbuatan tokoh-tokoh cerita.

Berbeda dengan alur, plot adalah rangkaian sebab-akibat yang memicu krisis dan menggerakkan cerita menuju klimaks. Di dalam alur ada plot. Tapi plot bukanlah alur. Ibarat tubuh, alur adalah fisiknya, dan plot adalah ruh atau ‘kekuatan dinamis’ yang penuh gairah membangun konflik, atau mesin yang menggerakkan cerita ke arah klimaks dan ending. Di dalam plot inilah persoalan-persoalan yang dihadapi para tokoh cerita saling digesekkan, dibenturkan satu sama lain menjadi persoalan baru yang lebih kompleks, diseret ke puncak krisis, lalu dicari pemecahan (penyelesaian)-nya menuju akhir cerita (ending). Di sinilah kecerdasan dan kearifan pengarang ‘diuji’ oleh persoalan yang diciptakannya sendiri, apakah ia mampu menemukan solusi yang cerdas dan arif sehingga karyanya mampu memberika sesuatu (something) kepada pembacanya.

Sedangkan penokohan adalah penciptaan tokoh-tokoh cerita yang dibutuhkan oleh tema dan plot. Contoh sederhananya: untuk tema cinta yang berakhir bahagia, misalnya, cukup dibutuhkan sepasang kekasih dan orang tua yang akhirnya merestui hubungan mereka. Tapi, untuk kisah cinta yang tragis, perlu diciptakan tokoh antagonis, yang membuat hubungan sepasang kekasih itu terbentur-bentur, mengalami krisis, dan berakhir getir. Di sinilah diperlukan apa yang disebut karakterisasi, yakni penciptaan karakter tiap tokoh cerita, agar mereka bisa menggerakkan plot. Karakter tiap tokoh digambarkan melalui narasi, deskripsi, dan dialog. Semakin tajam perbedaan karakter antar-tokoh cerita, akan makin tajam konflik yang terjadi, dan plot akan gampang bergerak ke arah krisis untuk menuju klimaks. Plot menjadi kental, penuh ketegangan (suspense), sehingga cerita tidak bergerak datar tapi dinamis.

Contoh:

“Handi mati…” gumamku, lirih.

Sempurnalah kesepian dalam hidupku. Hari ini Handi pergi untuk selamanya. Hanya dia yang mengerti kegalauan hati ini. Tidak ada orang lain yang bisa mengerti arti tawaku yang getir. Air mataku yang pahit. Atau sesimpul senyumku yang keluar terpaksa. Hanya, Tya panggilan akrab Handi, sahabat yang selalu memahaminya. Hanya Tya yang bisa mengerti ketulusan dan pengorbanan.

Sore tadi, 30 menit selepas adzan maghrib. Saat dimana aku seperti mati. Aku tidak kehilangan nyawaku. Dia masih menyatu dengan tubuh kurus kerempeng ini. Tapi aku kehilangan sesutu yang lebih berharga dari nyawaku. Handi mati…

Aku meresa aliran darahku naik keubun-ubun. Sewaktu Fardia datang kerumah dan menggedor pintu kamarku. Aku sendiri sedang terbuai dengan angan-angan indah, dengan rokok yang kulinting sendiri. Ya, walaupun aku cewe, aku suka merokok. Fardia datang dengan wajah pucat dan tergesa-gesa.  Dia bergumam lirih: “Tya, Handi… Handi… telah tiada.” Fardia mengatakan terbata-bata.

Kalimat yang meluncur dari mulut Fardia berhasil membelalakan mataku sampai mau copot, membuat jantungku bergetar sangat kencang. Dan berhasil mendiamkan aku dari lintingan-lintingan rokok dimulutku. Fardia berkali-kali mengucapkan kalimat yang sama, namun tetap saja aku tak percaya. Aku tetap mematung bagai arca, menganggap gurauan belaka.

“Loe ga usah bercanda, aku lagi ga mood neh buat hal-hal konyol itu.”

Segera kutarik Fardia, kutampar dia. Ku harap dia bisa menghilangkan candanya. Berharap dia sadar tentang apa yang dia ucapkan, hanya omong kosong. Fardia menangis dan memeluk tubuhku sangat erat. Dia menangis deras.

“Handi meninggal Ty… Handi mati.”

“Ga mungkin, loe bercandakan, loe berguraukan. Katakakan ya, kalau loe sedang ngerjain gue.”

Plak, Fardia menamparku. “Maaf Ty, Handi benar-benar sudah ga ada…”

“Ga mungkin. Loe bohong…! Handi ga bakal ninggalin gue secepat ini… ga mungkin… ga mungkin…!”

Kami berdua menangis. Aku melepaskan pelukan Fardia, kujatuhkan tubuhku kelantai. Kupeluk kedua lututku.

“Ty, gue… gue pergi dulu. Mau ngasih tau temen-temen.”

Fardia meninggalkanku sendiri, meningalkan aku dengan gundah hatiku yang masih larut dalam derai tangis. Rokok yang selalu menemaniku dalam jengkal tekanan hidupku sudah tak kupedulikan lagi.

Handi pasti akan marah besar jika melihat aku melakukan ini. Apalagi aku seorang cewe, mungkin dia akan menamparku dan pergi mengiggalkanku seketika. Tapi aku sudah tak bisa lepas dari asap rokok ini yang telah menjadi bagian dari hidupku.

Handi selama ini aku anggap sebagai seseorang yang membuat jantungku selalu berdegup kencang. Aku anggap dia tidak hanya sebatas sahabat dekatku, tetapi aku sudah anggap dia sebagai belahan dari hatiku. Aku ingat ketika Handi sedang memarahiku ketika aku melakukan kesalahan. Aku hanya diam, mengacuhkan sedikit. Ya, karena aku agak bosan, setiap kali dia memarahiku selalu dengan gaya bahasa ustads. Padahal kalau dia tau tentang keadaan diriku yang sebenarnya. Dia segera menghilang menjauhiku.

Didunia ini hanya Handi yang kupunya. Keluargaku berantakan. Ayah selingkuh dengan penjual jamu sexy yang selalu mampir dipangkalan ojek. Ibuku stress, dia pergi. Dan kabar terakhir yang kudengar dia gila dan menjadi bulan-bulanan masa. Aku anak semata wayangnya kabur. Meninggalkan semuanya. Sejak saat itu aku kacau, aku tak bisa memahami diriku sendiri. Hanya termenung, berangan-angan, ketawa, dan merokok sebagai yang mampu menahan semua itu. Aku merokok sudah lima tahun semenjak kepergianku meninggalkan kenangan lama tentang keluargaku. Dan sampai saat ini aku masih tetap melakukannya. Sampai aku menemukan obat kegelisahanku, yaitu Handi. Seorang yang selalu mengajakku untuk bersikap menjadi wanita dewasa, wanita yang kuat, tangguh, dan satu hal harapan dia, menjadi wanita sholihah.

Disaat kegalauankku memuncak, handi selalu datang dan memberikan ketenangan. Dia seperti malaikat. Bahkan menurutku lebih suci dari seorang malaikat. Terkadang aku menganggap Nabi yang dikirim oleh Tuhan untukku. Handi sudah seperti apapun didunia ini. Dia selalu menerangi kehidupanku yang gelap karena hanya ada malam disana. Tidak ada fajar dan siang.

Handi bisa menjadi apapun yang kubutuhkan. Saat aku butuh peran seorang ayah, Handi bisa menjadi sosok itu. Saat aku kehilangan semuanya, Handi datang dan berusaha mengobatinya. Handi bisa menjadi siapapun. Sahabat, saudara, ayah, bahkan ibu bagiku.

Bersambung…

Facebook Comments

Leave a Reply

22 pemikiran pada “Mengembangkan Ide Bagi Cerita Pendek

  1. sangat menarik. baik pengantar maupun contoh kasusnya. tapi kenapa tidak dipisahkan saja.

    nah, itu dia. Mungkin pembaca akan bosan ketika membaca terlalu panjang, tetepi kalau tak ada contoh kasian pembaca. Takut ga bisa nangkep.

  2. ceritanya mengembangkan imaginasi sang pembaca namun sepertinya masih ada lanjutanya yang boleh untuk di tunggu
    ( seperti malaikat = sebenarnya seperti apa toh klasifikasi malaikat …? ) atau hanya sekedar peninggian kalimat dalam pengumpamaan …… hehehehe
    salut dan di tunggu kelanjutanya

    Insya Allah, lanjutannya akan segera beredar. “seperti malaikat” -> melebihkan keadaan yang sebenarnya, karena seseorang telah berperan besar dalam kehidupan tokoh.

  3. wah ini menarik,
    ada penjelasan teorinya,
    dan ada contoh prakteknya dari tulisan sendiri,
    mana dibikin bersambung pula, membikin penasaran.

    Pelajaran yang bermanfaat buat penulis pemula seperti saya. (worship).

    saya juga masih belajar, postingan ini juga ada yang komentar tpi lewat email. Masih banyak kekurangan mas.

  4. wah, teknik tutorial penulisan cerpen yang oke dan yahud, mas. ayo, sebarkan dan share pengalaman menulis cerpennya kepada pembaca. saya tunggu lanjutannya!

    OK, saling berbagi mas. terima kasih telah berkunjung.

  5. keren, bisa dijadikan referensi menulis, aku suka penggambaran tokoh sama suasana yang dibentuk dari kata-kata…. seolah sedang berbicara sendiri…

    terima kasih mbak. kalo ada yang suka, aku tambah semangat nih….

  6. horeeeeee….dapat ilmu. lumayan buat nambah ilmu guna menunjang pembelajaran menulis. diriku belum bisa menulis cerpen. menulis baikpun masih sangat jauh

    masih sama sepertiku mas…! aku cuma mempraktekkan menyebar sebanyak yang kau dapat.

  7. Wew, kayak yang udah pengalaman 50tahun neh, aku dulu pernah nyoba selalu gagal, mari coba terapkan ni tuts

    waduh 50 tahun…! padahal aku anak baru kemarin sore…!

  8. saya juga mengalami kesulitan untuk menuangkan gagasan dan ide kedalam kata-kata dan tulisan.. dapat pelajaran berharga nih dalam tulis-menulis.

    matur nuwun mas, kendala utama seorang penulis mas. Menulis bisa lancar kalo lagi ada mood. Tapi menurut cak Novi “mood ada karena kita yang membangunnya”.

  9. duh, q juga jadi ikut bangga karna blog teman q ditunggu orang.
    iya juga, q jadi ikut penasaran setelah membacanya,,,,,,,,,

  10. weeeesssssssssssssssssss..keren tnan seh nang…???mama proud deh ma karya mu yang makinj wahhhhhhhhhhhhhhhhhhh

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *