Cerpen yang Kental dan yang Longgar

Cerpen hanya mengungkap satu persoalan pokok, sementara novel menggabungkan beberapa persoalan secara sambung-menyambung dalam rangkuman satu tema sentral. Oleh karena itu, novel punya banyak peluang untuk berlarut-larut dalam memaparkan suatu latar, peristiwa, atau penokohan secara rinci. Sedangkan cerpen hanya selintas-selintas saja mengungkap esensi suatu latar, peristiwa, atau penokohan dalam satu “helaan nafas” untuk menunjang persoalan pokok. Untuk itu, diperlukan sikap hemat dalam mengumbar narasi sewaktu menulis cerpen karena keterbatasan halaman atau karena kependekannya. Meski begitu, bukan berarti sebuah cerpen merupakan ringkasan sebuah novel. Cerpen adalah cerita yang pendek, kental dan mengesankan.

Mungkinkah beberapa cerpen digabung menjadi sebuah novel? Ternyata pertanyaan itu telah dijawab oleh sastrawan Putu Wijaya. Ia pernah mengembangan beberapa cerpen yang senada menjadi sebuah novel. Seno Gumira Ajidarma agaknya pernah melakukan hal yang sama, yakni ketika cerpen Tujuan: Negeri Senja belakangan berubah menjadi sebuah novel. Dan, memang betul, novel yang lahir setelah cerpen itu memiliki tema yang sama. Tentu saja, novel lebih komplit, memberikan kesempatan kepada pembaca ruang yang lebih luas untuk menjelajahi makna dan pesan yang diembannya.

Terlepas dari itu semua, adakalanya sebuah cerpen begitu kentalnya seolah-olah kesannya adalah sebuah novel pendek setelah dibaca tuntas. Sebagai contoh, adalah cerpen Lampor karya Joni Ariadinata. Mungkin ini kesan pribadi saya sebagai pembaca. Sebaliknya, cerpen Waktu Nayla karya Djenar Maesa Ayu betul-betul terasa sebagai sebuah cerita pendek, sebuah fragmen kecil dari sebuah kehidupan. Namun, bukan berarti pula cerpen ini sebagai sebuah cerpen longgar, malahan ia memang cerpen yang padat. Setiap paragraf, kalimat dan frasanya terasa mengalir dengan deras hingga tak terasa cerpen itu sudah berakhir.

Membandingkan kedua cerpen ini, tampaknya ada beberapa helai benang merah yang perlu kita tarik dan pelajari sebagai kisi-kisi penting dalam proses penulisan cerpen. Pertama, kekentalan cerpen adalah hal yang mutlak, terserah apakah ia akan menjadi model cerpen Lampor atau Waktu Nayla. Kekentalan itu terletak pada teknik memilih suatu elemen menjadi ringkas, tapi kaya, sementara ide pokok cerita tetap terjaga. Dan, semua elemen itu berfungsi untuk menunjang ide pokok cerita. Misalnya, dalam cerpen Lampor, semua panorama yang dideskripsikan: suasana kali comberan yang dimanfaatkan oleh seluruh warga Lampor, suasana di pondok tokoh cerita si tukang akik yang malas, lengkap dengan tindak-tanduk tokohnya, sedikit menyinggung kampung seberang yang elit, semua bermuara pada kehidupan sebuah keluarga yang “amburadul” dalam normalitas kehidupan ala masyarakat Lampor. Cerpen ini sangat kental, bagaikan miniatur sebuah kehidupan rakyat kecil yang dijalani oleh jutaan masyarakat urban kota yang marginal.

Dalam cerpen Waktu Nayla, cerita berpusat pada suasana hati tokoh Nayla yang dihantui “kematian” oleh penyakit yang diidapnya. Semua elemen cerita bermuara ke sana, yakni: bagaimana waktu terasa menjadi begitu berharga sebelum maut itu menjemput. Padahal, tampak luar, sang tokoh adalah manusia biasa saja, normal, hidup, energik dan berdaya usaha. Akan tetapi, sang pencerita mengupas bagian dalam kehidupan sang tokoh hingga terkubak dengan menghadirkan panorama yang mencekam (bagi pembaca). Ia juga menjadi cerpen yang sangat kental.

Tidak semua cerpen yang hadir setiap minggu di kolom-kolom koran atau majalah tampil dengan kekentalan yang sama. Maka, cerpen yang terasa longgar itu seringkali membuat pembaca meninggalkannya sebelum melanjutkan membacanya sampai ke paragraf kedua. Oleh sebab itu, cerpen-cerpen yang (beralur) longgar, dianggap “dikalahkan” oleh berita-berita hangat dan fitur-fitur yang hadir bersamaan dengan pemuatan cerpen tersebut. Pada saat itu, cerpen hanya menjadi pelengkap penderita, sekedar memenuhi pagina budaya yang telah disediakan secara rutin. Saya pikir, salah satu pertimbangan redaktur kias Annida adalah kepadatan alur cerpen sebagai salah satu prasyarat kelayakan muat sebuah cerpen. Meski demikian, sering juga muncul kias (cerpen) yang beralur longgar, tanpa menyebut beberapa contoh. Anda tentu tahu cerpen mana yang saya maksudkan.

Sumber: Materi FLP-C

Facebook Comments

Leave a Reply

6 pemikiran pada “Cerpen yang Kental dan yang Longgar

  1. sebuah esai yang menarik, mas. saya juga jadi kepikiran nih utk mengembangkan sebuah cerpen — hanya sebuah cerpen– menjadi novel. yang diperlukan barangkali kemampuan mengeksplorasi latar dan penokohan hingga akhirnya menjadi jalinan konflik yang menarik. bener nggak, yah?

    ya kira-kira seperti itu. insya Alloh mas bisa.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *