Teknik Penulisan Berita untuk Pemula #2 (Habis)

Setelah membaca tulisan sebelumnya Teknik Penulisan Berita untuk Pemula #1, berarti anda sudah sedikitnya mengetahui  tentang syarat-syarat layak berita yaitu significance, magnitude, timeliness, proximity, prominence, human interest. Apalagi ditambah dengan contoh, pahamlah anda. Tetapi untuk menulis berita ada hal lain yang menjadikan berita akan sempurna, yaitu konsep 5W 1H.

Didalam dunia jurnalistik sudah tidak asing lagi konsep 5W 1H. 5W 1H adalah unsur-unsur yang terdiri dari (What, Who, Why, When, Where) + How. (Apa, Siapa, Mengapa, Kapan, Dimana,) dan Bagaimana. Pertanyaan-pertanyaan ini merupakan perangkat pembantu untuk mencari jawaban yang akan menjadi bahan berita. Dan konsep ini mutlak adanya, sebab kalau kita lupa salah satu dari perangkat pertanyaan tersebut, maka pembaca akan bertanya-tanya. Misalkan kurang who-nya, pembaca akan bertanya siapa yang diberitakan, kurang where-nya, pembaca bertanya dimana gerangan lokasi kejadian itu dan seterusnya.

Untuk itu, penulisan berita sebaiknya dimulai dengan membuat pertanyaan. Anda pasti tahu bahwa setiap hari ada berita menarik dimedia massa. Mulai dari pembunuhan, perampokan, perkosaan (kriminalitas); banjir, tanah longsor, gempa bumi (bencana alam); politik, ekonomi, budaya, lingkungan hidup dll. Setelah kita menemukan fakta yang ingin diberitakan, maka mulailah dengan membuat sebuah kalimat pertanyaan. Misalnya hari ini menulis berita tentang gempa bumi yang menewaskan ribuan orang. Kalimat pertanyaan tersebut bisa berbunyi: “Gempa bumi yang terjadi di….. (where); hari/tanggal….. (when); telah menewaskan ribuan korban.

Berdasarkan kalimat pertanyaan tersebut, sudah bisa diajukan pertanyaan-pertanyaan lengkap yang menyangkut 5W 1H. Misalnya pertanyaan pertama menyangkut what: apa saja yang hancur? Rumah? Sekolah? Kantor pemerintahan? Apa saja yang menjadi korban? Manusia? Hewan? Tanaman? dan lain-lain menyangkut pertanyaan what. Dari sana bisa mengajukan pertanyaan menyangkut who. Siapa (bisa orang atau lembaga) yang sudah turun tangan membantu korban? Dan lain-lain pertanyaan who. Disusul dengan pertanyaan when dan where. Dua pertanyaan ini bukan hanya menyangkut peristiwa yang sudah nyata-nyata dalam berita, melainkan (terutama) mendeteksi kapan dan dimana gempa bumi serupa yang pernah terjadi dalam kurun waktu 5 sampai 10 tahun belakangan ini. baru kemudian why: mengapa bisa terjadi bencana gempa bumi yang memakan banyak korban? Dan how: Bagaimana caranya agar peristiwa semacam ini tidak menimbulkan korban yang banyak lagi?

Setelah ada pertanyaan, pasti harus ada jawaban. Bagaimana mendapatkannya? Bisa diperoleh dari bahan bacaan, data statistik, kamus, ensiklopedia, data pemerintah daerah dll. Semua itu bisa diperoleh secara langsung (dari tangan pertama) sebagai data primer, bisa pula dari tangan kedua (sekunder) dan ketiga (tersier).

Mungkin, ada yang bertanya dari anda. Bagaimana kalau jawaban yang sudah diperoleh justru menimbulkan pertanyaan baru? Entah bisa atau tidak, yang jelas memang akan selalu demikian. Hingga seorang penulis harus membatasi diri untuk hanya sampai kesatu permasalahan tertentu saja. Atau bisa saja menulis berita pada angle (sudut pandang) tertentu, sehingga hal-hal diluar permasalahan hanya disinggung sedikit atau sama sekali tidak disebutkan. Namun apabila masih ada jawaban yang menimbulkan pertanyaan yang sangat esensial, maka harus tetap dicari jawabannya. Apabila jawaban tidak mungkin diperoleh dalam waktu yang singkat, maka tulisan tersebut juga tidak bisa diselesaikan dalam waktu yang singkat pula.

Demikian, semoga bermanfaat.

Facebook Comments

Leave a Reply

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *