Kerudung “Cantik”

“Oh ya anak-anak kelas X sos 3, bapak mau menitipkan anak yang suka terlambat ini didepan kelas. Ini anak kelas dua. Kakak kelas yang tak perlu dicontoh. OK, terima kasih.” Pengumuman pak Ghozin yang sangat tidak mengenakan.

Sejurus kemudian beliau pergi meninggalkan Aku sendiri di ruang kelas yang penuh dengan wanita. Aku berdiri di sebelah kiri papan tulis dekat dengan pintu. Terdiam, tak berani bergerak, mematung bagai arca perunggu didepan puluhan titisan Roro Jongrang, wanita tokoh dongeng Candi Prambanan itu. Tak ada kata, tak ada gerak, tak ada semua. Aku menghadapkan wajahku pada lantai keramik dibawahku. Tertunduk. Otakku kacau. Seperti biasa mulailah bayangan menyelinap masuk, seakan-akan mereka menertawakankku. Hampir semuanya tertawa terbahak-bahak melihatku. Tak hanya itu mereka mengacungkan jari telunjuknya kemukaku. Sampai-sampai ibu guru yang sedang mengajar matematika didepan juga menertawakanku. Menertawakankku. Menertawakanku! Aku malu…

Tak..

Suara penghapus jatuh. Aku terbangun dari imajinasiku. Aku menoleh. Seorang siswi dengan jilbab putih rapi jongkok untuk mengambil penghapus. Sejenak ia melihatkku. Aku juga melihatnya. Dan pada saat itu…Cess… seperti ada kilatan cahaya yang masuk melalui kedua mataku. Dia sungguh mempesona. Siapakah gerangan dia? kata hatiku. Namun siswi-x langsung buang pandangan. Dia kembali mengerjakan tugas yang sedang diberikan oleh guru matematikanya. Dia terlihat anggun walaupun dilihat dari samping. Sungguh mempesona. Tak seperti wanita-wanita biasanya. Dia itu seperti…seperti… pokoknya tak bia diungkapkan dengan kata-kata. Ada sesuatu yang membuat ia berbeda. Sesuatu itu juga telah menyesakan dadaku. Menusuk setiap pembuluh alveolusku sehingga ku sesak. Tak bisa bernafas. Walaupun ini pertama kalinya bagiku. Ada yang lain pada dirinya.

Agak lama aku memandangnya saat mengerjaka tugas didepan.

“Bu, sudah…! Boleh aku duduk kembali…” Tanya siswi tersebut.

“oh…silahkan.”

Tet..tet..

“oh ya, anak-anak jam ibu sudah habis. Dan jangan lupa sisa soalnya dikerjakan masing-masing. Besok yang tidak mengerjakan ibu hukum.”

“ya, bu…” jawab serentak siswi-siswi kelas X sos 3.

“bu, boleh saya meninggalkan kelas.” Tanyaku.

“silahkan.”

Sejurus kemudian aku pergi meninggalkan kelas yang kemudian diikuti bu guru matematika. Tak ada yang tertinggal disana, hanya kenangan tentang siswi yang mengerjakan soal matematika itu. Dia sungguh mempesona-membuat jantungku berdegup kencang setiap kali mengingatnya, tapi sayang aku tak tahu siapa dia. Hanya saja aku cukup untuk mengingat wajahnya.

* cuplikan kumpulan cerpen batur agung

Facebook Comments

Leave a Reply

3 pemikiran pada “Kerudung “Cantik”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *