Tidak Ada Untungnya Hidup di Indonesia

Negeri yang terkenal elok karena kekayaan alamnya ini sekarang sedang terjelembab dalam lembah kehancuran yang dalam. Indonesia, entah sudah berapa permasalahan-permasalahan yang terbengkalai yang perlu secepatnya di perbaiki di negeri ini, dan berbagai macam permasalahan tersebut kian menjadi dan berganti dengan permasalahan lain yang lebih sulit pemecahannya, entah apa yang telah dilakukan oleh bangsa ini sehingga membiarkan negerinya terus berada dalam garis kehancuran. Dimanapun dan kapanpun seseorang berada dalam negeri ini, maka kewajiban bagi mereka untuk segera membangkitkan negeri ini dari segala bahaya yang mengancamnya, tapi apa yang di harapkan dari bangsa ini? Para penerus bangsanya saja banyak yang loyo dan tak bersemangat, lalu apa kita masih mengandalkan orang-orang tua sebagai basis pertahanan negeri ini..?

Itu salah satu contoh dari sekian banyak persoalan yang terjadi di negeri ini, sebuah negeri yang berpenduduk lebih dari dua rartus jiwa ini seakan tidak mampu menghasilkan generasi terbaik untuk membangun negeri ini, lalu bagaimana masa depan negeri ini nantinya?

Setelah lebih dari setengah abad kita menjadi bangsa Indonesia yang di akui kemerdekaannya oleh dunia, bangsa ini telah banyak melalui peristiwa besar, terlebih yang beraroma penderitaan. Kemerdekaan yang kita rebut dengan darah dan nyawa. Peristiwa tahun 1965 yang meminta tumbal jutaan nyawa. Resesi ekonomi yang bergelombang seolah tak ada habisnya. Bencana alam besar yang datang silih selang. Sungguh pengalaman kita sebagai bangsa sangatlah kaya. Dan semestinya, pelajaran yang kita ambil dari sekian banyak pengalaman itupun, juga melimpah. Tapi sayang, bangsa ini seakan terlelap lepas dari pengalaman yang telah terjadi. Orientasi bangsa ini sekarang ini adalah cuma bagaiman bisa hidup enak dan tenang. Bangsa ini tak sadar, bahwa persaingan sengit yang mereka gencarkan untuk mencari kekayaan diri yang lebih semakin mempersulit dan mempersempit tumbuhnya ekonomi di negeri ini. Mereka seolah menghalalkan segala cara untuk memuaskan perut mereka sendiri, salah satunya dengan melakukan tindak pidana korupsi,  entah sudah berapa julukan yang di tunjukkan kepada Indonesia, negeri terkorup kedua di dunia pun telah disandangnya, lalu apa yang pantas diandalkan kalau semua bangsanya hanya memikirkan dirinya sendiri, dan dengan entengnya melakukan berbagai macam makar yang imbasnya memakan negerinya sendiri.

Negeri ini terlalu jauh untuk mengejar ketertinggalannya terhadap negeri-negeri yang lain. Di zaman yang di kenal dengan zaman teknologi informasi ini saja, Indonesia masih menggantungkan pasokan impor dari negeri lain untuk memenuhi kebutuhan bangsanya. Bahkan yang lebih parah, tingkat impor yang terus meningkat justru terjadi di sektor pertanian (pangan), entah sudah berapa juta ton negeri ini mengimpor produk-produk pertanian seperti gandum, kedelai dan lain-lain setiap tahunnya. Lalu bagaimana negeri ini bisa berbangga diri dengan julukan zamrudnya dan kekayaan alamnya yang melimpah, sedangkan hasil pertanian saja banyak yang mengimpor. Sungguh ironis memang, kekayaan alam yang di anugerahkan Sang Pencipta bagi negeri ini sama sekali tidak di dayagunakan dengan baik, malah bahkan aset kekayaan bangsa ini banyak yang sudah di ambil alih oleh perusahan asing. Didalam negerinya sendiri sudah merana dan tak ada tempat yang layak untuk bernapas, dan akhirnya banyak dari penduduknya yang mencari pekerjaan di luar negeri sebagai tenaga kerja (pembantu), negeri ini memang benar-benar telah menjadi pemasok nomor wahid dalam kegiatan ekspor manusia pekerja, lalu setelah mereka berada di negeri orang, tidak sedikit pula dari mereka yang mengalami berbagai macam masalah dan hal tersebut semakin membuat buruk citra Indonesia di mata Internasional. Maka tidak salah kalau ada sebagian orang yang beranggapan bahwa orang Indonesia pergi ke luar negeri menjadi babu, sedangkan orang luar masuk ke Indonesia menjadi majikan yang kaya raya karena berhasil mengeruk kekayaan Indonesia.

Sungguh ironis dan sangat ironis, masyarakatnya semakin terjepit, tapi yang sadar pun sedikit, entah apa lagi yang di harapkan, permasalahan demi permasalahan kerap terjadi dan terus terjadi, berestafet  ria dengan segala bentuk kehancuran, dari kehancuran yang bersifat alamiah (seperti gempa bumi, banjir, dll) sampai kehancuran moral para generasi mudanya. Lalu apakah bangsa yang tak sadarkan diri ini masih layak di sebut dengan bangsa yang besar? Mungkin besar penduduknya, tapi untuk kualitasnya benar-benar diragukan.

Kita hanya bisa mengandai-andai, masih adakah sekarang ini, pejuang-pejuang yang dengan kerelaannya membangun negeri ini? Masih adakah sekarang ini orang-orang yang mau berfikir positif  dan mau memahami kondisi negerinya sekarang ini? Masih adakah jiwa-jiwa pembangkit yang gagah perkasa yang menolong kita dari berbagai kehancuran, membuat hidup kita tenang dan damai, tak ada berita-berita kriminal yang kerap ditayangkan oleh stasiun-stasiun televisi swasta pada setiap harinya, jauh dari berita kelaparan, korupsi, bencana alam, anak terlantar, kenakalan remaja, dan kejadian-kejadian lain yang menyesakkan dada. Rasanya bangsa ini memang begitu haus dengan ketenangan dan kedamaian, tapi kenapa sampai sekarang ini belum banyak yang menyadarinya..?

Tidak ada untungnya hidup di Indonesia…!!! Satu pernyataan pedas, merendahkan, bahkan menghina kita sebagai bangsa Indonesia, tapi kalau di lihat dari kenyataannya, memang tak jauh dari pernyataan tersebut.

Kita memang harus secepatnya sadar, lalu bangkit untuk kemudian menyatupadukan diri kita untuk membangun negeri yang kita cintai ini, walaupun butuh waktu yang lama, tapi kalau tidak di mulai dari sekarang, mau kapan sampainya?

Bangkitlah Indonesia…Bangkitlah!!!

Facebook Comments

Leave a Reply

Satu pemikiran pada “Tidak Ada Untungnya Hidup di Indonesia

  1. ga mo idup d indonesia,mo dtrm dmn org2 spt qta?

    itukan cm judul…. biar narik pembaca..!!!
    makanya baca dulu dunk, ntar paham..!

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *